Tampilkan postingan dengan label GALERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GALERI. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 Maret 2018
Selasa, 03 Oktober 2017
Konsep Negara Menurut NU
Konsep Negara Menurut NU
NU
menempatkan negara sebagai alat bagi pencapaian tujuan Islam. Maka, karena
tujuan Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (kesejahteraan bagi semesta), negara
yang mengarah ke tujuan tersebut bisa diterima, meskipun tidak berbentuk Islam.
Pada tanggal 4-8 Juni, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
diundang oleh para ulama Afghanistan dan Noor Educational and Capacity
Development Organization (NECDO) untuk menghadiri workshop “Peran Ulama
dalam Pembangunan dan Rekonstruksi Afghanistan” di Afghanistan.
PBNU, yang diwakili empat delegasi, berbicara di hadapan para
ulama dan ilmuwan dari 12 provinsi tentang pentingnya perdamaian serta
rekonsiliasi.
Dalam kesempatan itu, NU diminta berbagi pengalaman tentang peran
ulama di Indonesia dalam menciptakan keharmonisan umat beragama beserta
manajemen konflik di dalamnya.
Yang menarik dalam pertemuan itu adalah potensi NU sebagai model
Islam di dunia, sebab ia menjadi “cermin”, khususnya bagi Afghanistan, dalam
rangka hubungan Islam dengan kemodernan. Hubungan yang berhasil dijaga NU
secara harmonis ini telah meminimalisir konflik, baik konflik antar-umat
beragama maupun antara Islam dan Barat. Dengan demikian, NU bisa menjadi model
bagi hubungan Islam dan kemodernan yang melahirkan hubungan harmonis antar-umat
beragama.
Model yang dibangun NU itu merujuk pada integrasi Islam ke dalam
perjuangan nasional melalui demokratisasi dalam jangka panjang. Dalam kaitan
ini, terdapat dua proses signifikan. Pertama, integrasi Islam ke dalam
nasionalisme. Kedua, partisipasi Islam dalam demokratisasi.
Kita akan
membahas poin pertama dulu, yakni integrasi Islam ke dalam nasionalisme.
Yang dimaksud poin ini adalah penyatuan visi Islam tentang
kehidupan ke dalam tujuan utama pendirian negara-bangsa. Hal ini berangkat dari
kaidah al-ghayah wa al-wasail (tujuan dan metode), yang NU menempatkan negara
sebagai alat bagi pencapaian tujuan Islam. Maka, karena tujuan Islam adalah
rahmatan lil ‘alamin (kesejahteraan bagi semesta), negara yang mengarah ke
tujuan tersebut bisa diterima, meskipun tidak berbentuk Islam. Oleh karena itu,
NKRI, yang memuat “keadilan sosial” sebagai tujuan konstitusional bernegara,
diterima oleh NU, meskipun ia bukan negara Islam yang formal.
Pada ranah historis, proses integrasi ini terjadi melalui beberapa
tahap. Pertama, pengakuan wilayah Nusantara sebagai wilayah Islam (dar
al-Islam). Hal ini dilakukan pada Muktamar ke-11 (1936), yang para ulama NU
menetapkan Nusantara sebagai dar al-Islam. Menariknya, istilah dar al-Islam ini
tidak dimaknai sebagai “negara Islam”, melainkan “wilayah Islam”, sebab di
dalamnya umat Islam bebas melaksanakan syari’at. Dengan cara ini, NU telah
membentuk “kebangsaan Islam” (Islamic nationalism) sebab dar al-Islam tersebut
dipahami sebagai bangsa. Artinya, ketika Nusantara diakui sebagai dar al-Islam,
wilayah ini telah dipahami sebagai bangsa muslim Indonesia.
Kedua, penerimaan atas negara-bangsa (NKRI), bukan negara Islam
pada pembentukan konstitusi 1945. Wakil NU di sidang PPKI, yakni Kiai Wahid
Hasyim, Kiai Masykur, dan Zainul Arifin, telah menyepakati bangunan NKRI dalam
kerangka perawatan kemajemukan bangsa. Pada titik ini, NU telah menepis
ego-kelompok, demi terjaganya masyarakat bangsa yang majemuk.
Ketiga, penetapan pemerintah RI sebagai pemimpin darurat yang
memiliki wewenang menerapkan syari’at (waliy al-amri al-dlaruri bi
al-syaukah). Kesepakatan ulama pada Munas Alim Ulama (1954) ini ditetapkan
agar syari’at Islam bisa ditegakkan, karena pemerintahan sah secara syar’i.
Dari sini terlihat bahwa politik kebangsaan NU tidak bersifat sekuler, karena
ia bermuara pada syari’at Islam, baik melalui penerapan partikel hukumnya di
dalam hukum nasional, maupun pengamalan sebagai etika sosial.
Keempat, penerimaan Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini
ditetapkan pada Munas Alim Ulama NU di Situbondo (1983), Pancasila diterima
sebagai dasar negara sedangkan Islam tetap dijaga sebagai aqidah. Antara aqidah
beragama dan dasar bernegara tidak dibenturkan, sebab Pancasilam yang memuat
sila ketuhanan, merupakan bentuk pengamalan syari’at Islam.
Melalui proses integrasi Islam ke dalam nasionalisme ini, NU telah
melerai ketegangan antara Islam sebagai “ideologi universal” dan Pancasila
sebagai “ideologi nasional”, serta antara Islam sebagai “paham theokratis” dan
NKRI sebagai “bangunan negara-bangsa”. Sebuah pola hubungan yang hingga saat
ini masih menyediakan ketegangan bagi sebagian besar negara Islam di Timur
Tengah, karena mereka belum mencapai hubungan harmonis antara Islam dan
kemodernan.
Dalam kaitan ini, penerimaan NU atas NKRI digerakkan melalui
demokratisasi dalam jangka panjang. Hal ini terjadi karena NU memahami
nasionalisme tidak dalam kerangka identitas dan wilayah, melainkan kerakyatan.
Hal ini terkait dengan pandangan terhadap kekuasaan yang terkait langsung
dengan kemaslahatan rakyat (tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi
al-mashlahah). Melalui pandangan ini, demokrasi yang diperjuangkan bukan
demokrasi prosedural, melainkan demokratisasi, baik dalam rangka pemenuhan hak
sipil-politik maupun hak sosial-ekonomi.
Dari paparan di atas terlihat bahwa NU telah membangun model Islam
yang selaras dengan kemodernan, nasionalisme dan demokrasi. Menariknya, NU
melakukan ini melalui khazanah tradisi Islam. Tradisi yang kemudian menjadi
metodologi ini misalnya terdapat pada legal maxim (qawa’id al-fiqhiyah),
legal theory (ushul fiqh), dan legal philosophy (hikmah
al-tasyri’).
Legal maxim menyediakan kaidah praktis yang bertujuan
menyelaraskan ketaatan normatif dengan keluwesan menghadapi realitas. Misalnya,
kaidah Ma laa yudraku kulluhu laa yutraku julluhu (Apa yang tidak bisa
dicapai semuanya jangan ditinggal prinsip dasarnya). Kaidah ini membuat NU
tidak menolak NKRI, sebab terdapat prinsip-prinsip Islam di dalamnya, meliputi syura
(musyawarah), ‘adalah (keadilan), dan musawah (persamaan).
Sementara itu legal theory menyediakan metode penerapan
syari’at dengan mengakomodir perkembangan zaman. Adapun legal philosophy
menjadi jembatan antara hukum Islam dan ilmu pengetahuan.
Dengan metode tradisional yang bernuansa modern ini, NU bisa
menghadapkan Islam dengan tantangan zaman secara setara. Dampaknya, ia tidak
terjebak di dalam asumsi Barat sebagai ancaman dengan posisi “Islam terancam”
selayak pemahaman kalangan fundamentalistis. NU dengan tradisinya telah
menempatkan Islam sebagai kebijaksanaan hidup yang menyempurnakan sistem
kehidupan yang ada. Oleh karenanya, dalam kaitan dengan pembangunan, peran
Islam tidak sebatas suplementer (tambahan), melainkan komplementer
(penyempurna), dengan ikut menentukan arah ideal pembangunan.
Kesadaran dunia Islam seperti Afghanistan untuk bercermin dari NU
membuktikan bahwa jam’iyyah ini memiliki potensi besar. Tidak hanya dalam
kehidupan berbangsa, melainkan terlebih kehidupan global. Tak mengherankan jika
pemikir muslim asal Mesir, Hassan Hanafi, melihat potensi “Islam Indonesia”
sebagai pemimpin dunia Islam. Pandangan ini disampaikan oleh Hanafi kepada K.H.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika menjabat presiden ke-4 RI. Tentu yang
dimaksud Hassan Hanafi tersebut adalah NU.
Siraman Air yang Menyejukkan
Di tengah gencarnya usaha atau minimal suara agar Indonesia
menjadi negara Islam, yang besar kemungkinan akan sedikit memanaskan situasi,
apa yang dipaparkan NU, dalam hal ini As’ad Said Ali, wakil ketua umum PBNU,
itu benar-benar bagai siraman air yang menyejukkan.
Di negara kita, kondisi umat beragamanya adalah majemuk. Ada yang
menganut Islam, Hindu, Buddha, dan sebagainya. Lalu, kalau dasar negara kita
adalah Islam, misalnya, apakah para penganut agama yang lain setuju. Saya kira
tidak. Dalam sebuah diskusi pada acara Indonesia Lawyers Club di TvOne beberapa
waktu lalu, seorang romo Katholik menyebutkan, yang intinya kurang lebih, nilai
kebangsaan kita sebagaimana yang dipesankan Bung Karno telah luntur. Kita lebih
mementingkan ego suku, agama, dan seterusnya, daripada ikatan kebangsaan.
Itulah sebabnya, pilihan politik bangsa ini ihwal dasar negara
adalah Pancasila, bukan agama. Bukankah ini adalah pilihan yang adil bagi semua
penganut agama?
Untuk NU, saya sungguh salut pada pandangan-pandangannya. Saya
berkeyakinan, pandangan-pandangan NU akan semakin go international. Insya Allah,
kelak bukan hanya para ulama Afghanistan yang akan meng-NU-kan umat Islam-nya.
Ulama-ulama negara-negara lain, yang sadar bahwa pandangan-pandangan NU sangat
bermanfaat bagi tercapainya perdamaian dunia, pun akan mengikuti ulama-ulama
Afghanistan itu. Amin….
sumber: Santridayah.com
Sabtu, 02 September 2017
Gus Miek, dari Khataman ke Tempat Perjudian
GUS MIEK adalah seorang yang sangat terkenal di kalangan guru sufi,
seniman, birokart, preman, bandar judi, kiai-kiai NU, dan para aktivis. Dialah
yang membangun tradisi pengajian Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab dan pembacaan
wirid dzikrul ghafilin bersama beberapa koleganya.
Hamim Tohari Djazuli adalah nama lengkapnya. Ia dilahirkan pada
17 Agustus 1940 di Kediri dari pasangan KH Jazuli Usman dan Nyai Radliyah. Nyai
Radliyah ini memiliki jalur keturunan sampai kepada Nabi Muhammad, sebagai
keturunan ke-32 dari Imam Hasan, anak dari Ali bin Abi Thalib dengan Siti
Fathimah.
Ayah Gus Miek, KH. Jazuli Usman adalah pendiri pesantren Ploso
Kediri. Ia pernah nyantri kepada banyak guru, di antaranya kepada KH Hasyim
Asy`ari, Mbah Ma’ruf (KH Ma’ruf Kedunglo), KH Ahmad Shaleh Gondanglegi Nganjuk,
KH Abdurrahman Sekarputih, KH Zainuddin Mojosari, KH Khazin Widang, dan Syaikh
al-`Allamah al-Aidrus Mekkah.
KH Jazuli Usman nama kecilnya adalah Mas Mas`ud. Dia telah
sekolah di STOVIA yang ada di Batavia, tatkala anak-anak seangkatannya belum
sekolah. Mas Mas`ud ini anak dari Mas Usman, kepala KUA Ploso, Kediri. Pada
saat itu jabatan sebagai kepala KUA sangat bergengsi. Akan tetapi ayah Gus Miek
lebih memilih hidup dan mendirikan pesantren.
Sejak kecil, Gus Miek sudah tampak unik. Dia tidak suka banyak
bicara, suka menyendiri, dan bila berjalan selalu menundukkan kepala. Akan
tetapi Gus Miek juga sering masuk ke pasar, melihat-lihat penjual di pasar,
sering melihat orang mancing di sungai. Bila keluarganya berkumpul, Gus Miek
selalu mengambil tempat paling jauh.
Pada awalnya Gus Miek disekolahkan oleh KH Jazuli Usman di
Sekolah Rakyat, tetapi tidak selesai karena dia sering membolos. Setelah itu
Gus Miek belajar Al-Qur’an kepada ibunya, kepada Hamzah, Khoirudin, dan Hafidz.
Ketika pelajaran belum selesai Gus Miek sudah minta khataman. Para gurunya jadi
geleng-geleng kepala.
Ketika usia Gus Miek masih 9 tahun, dia sudah sering tabarrukan
ke berbagai kiai sufi. Beberapa kiai yang dikunjunginya adalah KH Mubasyir
Mundzir Kediri, Gus Ud (KH Mas’ud) Pagerwojo-Sidoarjo, dan KH Hamid Pasuruan.
Di tempat Gus Ud Pagerwojo Sidoarjo, Gus Miek bertemu dengan KH Achmad Shidiq
yang usianya lebih tua. KH Achmad Shidiq ini di kemudian hari sering menentang
tradisi sufi Gus Miek, tetapi akhirnya menjadi kawan karibnya di dzikrul
ghafilin.
Kebiasaan Gus Miek pergi ke luar rumah menggelisahkan orang
tuanya. Akhirnya ayahnya memintnya ngaji ke Lirboyo, Kediri di bawah asuhan KH
Machrus Ali, yang kelak begitu gigih menentang tradisi sufinya.
Di Lirboyo Gus Miek bertahan hanya 16 hari dan kemudian
pulang ke Ploso. Ketika sadar orang tuanya resah akibat kepulangannya, Gus Miek
justru akan menggantikan seluruh pengajaran ngaji ayahnya, termasuk mengajarkan
kitab Ihya Ulumuddin.
Tapi beberapa bulan kemudian, Gus Miek kembali ke Lirboyo.
Ketika masih di pesantren ini, pada usia 14 tahun Gus Miek pergi ke Magelang,
nyantri di tempatnya KH. Dalhar Watucongol, mengunjungi Mbah Jogoreso
Gunungpring, KH Arwani Kudus, KH Ashari Lempuyangan, KH Hamid Kajoran, dan Mbah
Benu Yogyakarta. Setelah itu Gus Miek pulang lagi ke Ploso.
Di Ploso, di tempat pesantren ayahnya, Gus Miek minta
dinikahkan, dan akhirya ia menikah dengan Zaenab, putri KH. Muhammad
Karangkates, yang masih berusia 9 tahun. Pernikahan ini berakhir dengan
perceraian, ketika istrinya masih berusia sekitar 12 tahun. Pada masa ini Gus
Miek sudah sering pergi untuk melakukan dakwah kulturalnya di berbagai daerah,
tabarrukan ke berbagai guru sufi, dan mendapatkan ijazah wirid-wirid.
Pada tahun 1960 Gus Miek menikah dengan Lilik Suyati dari
Setonogedong. Pernikahan ini atas saran dari KH. Dalhar dan disetujui KH.
Mubasyir Mundzir, salah satu guru Gus Miek. Gadis itulah yang menurut gurunya
akan sanggup mendampingi hidupnya, dengan melihat tradisi dan kebiasaan Gus
Miek untuk berdakwah keluar rumah.
Pada awalnya pernikahan Gus Miek dengan gadis Setonogedong
ditentang KH Jazuli Utsman dan Nyai Radliyah. Setelah melalui proses yang
panjang akhirnya pernikahan itu disetujui. Saat itu Gus Miek sudah berdakwah ke
diskotek-diskotek, ke tempat perjudian, dan lain-lain.
Dari berbagai perjalanan, riyadlah, dan tabarrukan, Gus
Miek akhirnya menyusun kembali wirid-wirid secara tersendiri yang didapatkan
dari para gurunya. Pada awanya Gus Miek mendirikan Jama`ah Mujahadah Lailiyah
tahun 1962. Sampai tahun 1971 jama`ah yang dirintis Gus Miek ini sudah cukup
luas.
Pada tahun 1971, para jama`ah Gus Miek dan masyarakat NU
menghadapi dilema pemilu. Saat itu semua pegawai negeri diminta memilih Golkar
oleh penguasa. Gus Miek sendiri tidak mencegah bila para pengikutnya yang PNS
untuk memilih Golkar, karena situasi sosial saat itu di bawah rezim otoriter
Soeharto. Metamorfosis dari komunits yang dibangun Gus Miek, semakin
menampakkan bahwa ia mengembangkan tradisi wirid di luar kelompok tarekat yang
sudah mapan di kalangan NU. Jama`ah Mujahadah Lailiyah yang dibangunnya
berkembang menjadi dzikrul ghafilin. Pada tahun 1971-1973 susunan wirid-wirid
dzikrul ghafilin diusahakan untuk dicetak, terutama setelah jangkauan dakwah
Gus Miek telah menjangkau Jember.
Bersama-sama KH Achmad Shidiq yang awalnya sangat menentang,
tetapi akhirnya menjadi sahabatnya, naskah wirid dzikrul ghafilin berhasil
dicetak. Naskah-naskah yang tercetak dibagikan kepada jaringan jama`ah Gus
Miek: di Jember di bawah payung KH Achmad Shidiq, di Klaten di bawah payung KH
Rahmat Zuber, di Yogyakarta di bawah payung KH Daldiri Lempuyangan, dan di Jawa
Tengah di bawah payung KH Hamid Kajoran Magelang.
Di samping mengorganisir dzikrul ghafilin, Gus Miek pada tahun
1986 juga mengorganisir sema’an Al-Qur’an. Beberapa bulan kemudian sema’an
ini dinamakan Jantiko. Tahun 1987 sema’an Al-Qur’an Jantiko mulai dilakukan di
Jember. Saat itu KH. Achmad Shidiq sudah menjadi Rais Am Syuriyah PBNU yang diangkat
oleh Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984.
Dibandingkan dzikrul ghafilin, jama`ah Jantiko ini lebih cepat
berkembang. Pada tahun 1989, Jantiko kemudian diubah namanya menjadi Jantiko
Mantab atau Jantiko man taba. Ada juga yang mengartikan Mantab sebagai Majlis
Nawaitu Tapa Brata. Dikatakan juga man taba itu berarti siapa bertaubat.
Jantiko Mantab ini kemudian berkembang ke berbagi daerah.
Perjuangan Gus Miek dengan dzikrul ghafilin, sema`an Al-Qur’an,
dan tradisi sufinya ke tempat-tempat diskotek, tempat perjudian, dan lain-lain,
sangatlah tidak mudah. Di tengah-tengah jam`iyah NU yang telah membakukan
tarekat mu’tabarah, tradisi sufi Gus Miek mendapatkan perlawanan. Dzikrul
ghafilin dianggap berada di luar kelaiman, tidak mu’tabarah. Penentangan datang
dari orang yang sangat terkenal, sekaligus pernah menjadi gurunya di Lirboyo,
yaitu KH Machrus Ali.
Hanya saja, semua itu bisa dilewati Gus Miek dengan sabar. Yang
paling menggemberikan karena KH Achmad Shidiq sebagai orang yang sangat
dihormati di NU, yang pada awalnya menentang tradisi sufinya, kemudian
bersama-sama mengembangkan dzikrul ghafilin di sekitar Jember dan sekitarnya.
Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993. Dia dimakamkan di Pemakaman
Tambak Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin. Di pemakaman ini pula KH
Achmad Shidiq dimakamkan, di sebelah timur makam Gus Miek. Di pemakaman ini
pula terdapat tidak kurang dari 22 orang yang kebanyakan menjadi guru sekaligus
murid Gus Miek. [Nur Kholil Ridwan]
Jumat, 25 Agustus 2017
Kiai Ali Maksum dan Dinamisasi Teks-teks Klasik
Beliau adalah menantu KH Muhammad Moenawwir , pendiri pondok
tersebut, seorang ulama Al-Qur’an yang memiliki reputasi hebat, yang
mana dari tangan beliau lahir ulama’-ulama’ sekaliber KH Arwani Amin
Kudus, KH Muntaha..
Sebagai salah satu lulusan krapyak tentunya secara pribadi bangga mana kala pengasuhnya “dianggap” sebagai sosok yang memiliki pengaruh. Tidak main-main pengaruh itu dalam skala nasional. Namun sesaat kemudian terlintas pikiran “nakal” yaitu pertanyaan” apakah betul bahwa kiai Ali Maksum ini benar-benar termasuk tokoh yang berpengaruh di Indonesia?
Apakah penulis buku ini benar-benar telah melakukan penilitian serius untuk sampai pada kesimpulan bahwa tokoh Kiai Krapyak ini layak menjadi salah satu dari seratus orang yang berpengaruh!! Apa parameter yang dipakai penulis itu dan apa pula bidang yang telah dipengaruhi oleh kiai Ali ini, sehingga pembaca haqqul yakin bahwa Kiai Ali Maksum ini layak mendapat tempat sebagai tokoh paling berpengaruh.
KH Ali Maksum adalah generasi kedua selevel dengan KH Wahid Hasyim. Beliau seorang putra dari ulama utara jawa tepatnya kota lasem Rembang jawa tengah yaitu KH Maksum. KH Maksum sendiri juga tercatat sebagai pendiri NU bersama para kiai Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan lainnya.
KH Ali beberapa tahun mondok di pesantren termas pacitan setelah sebelumnya belajar pada ayahnya sendiri. Studi beliau berlanjut ke makkah belajar dibawa asuhan ayah ataupun kakek sayyid Muahammad Al-Maliki. Menurut riwayat, Kiai Ali Maksum belajar dimakkah kurang lebih 2 tahun saja.
Selama menjadi pengasuh di Pesantren Krapyak, Kiai Ali juga dipercaya mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Beliau pernah dipercaya menjadi team Lajnah Pentafsir Al-Qur’an. Adapun karir oraganisasi kiai Ali adalah menjabat Rais Aam NU periode 80an setelah Rais Aam KH Bisri Sansuri Jombang wafat. Pengukuhan kepemimpinan Kiai Ali ini ketika generasi pendiri NU wafat, padahal pada saat itu tokoh-tokoh NU yang kharismatik( bahkan) secara usia lebih senior dari beliau masih banyak, misalnya KH As’ad Samsul Arifin situbondo, dan KH Ali Mahrus Kediri.
Kiai Ali Maksum tidak diragukan tingkat keilmuannya. Beliau termasuk jenis ulama’ yang berangkat tidak dari bangku sekolah formal layaknya ulama’ sekarang. Justru intelektualitasnya beliau bangun dari pesantren.
Sebagai salah satu lulusan krapyak tentunya secara pribadi bangga mana kala pengasuhnya “dianggap” sebagai sosok yang memiliki pengaruh. Tidak main-main pengaruh itu dalam skala nasional. Namun sesaat kemudian terlintas pikiran “nakal” yaitu pertanyaan” apakah betul bahwa kiai Ali Maksum ini benar-benar termasuk tokoh yang berpengaruh di Indonesia?
Apakah penulis buku ini benar-benar telah melakukan penilitian serius untuk sampai pada kesimpulan bahwa tokoh Kiai Krapyak ini layak menjadi salah satu dari seratus orang yang berpengaruh!! Apa parameter yang dipakai penulis itu dan apa pula bidang yang telah dipengaruhi oleh kiai Ali ini, sehingga pembaca haqqul yakin bahwa Kiai Ali Maksum ini layak mendapat tempat sebagai tokoh paling berpengaruh.
KH Ali Maksum adalah generasi kedua selevel dengan KH Wahid Hasyim. Beliau seorang putra dari ulama utara jawa tepatnya kota lasem Rembang jawa tengah yaitu KH Maksum. KH Maksum sendiri juga tercatat sebagai pendiri NU bersama para kiai Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan lainnya.
KH Ali beberapa tahun mondok di pesantren termas pacitan setelah sebelumnya belajar pada ayahnya sendiri. Studi beliau berlanjut ke makkah belajar dibawa asuhan ayah ataupun kakek sayyid Muahammad Al-Maliki. Menurut riwayat, Kiai Ali Maksum belajar dimakkah kurang lebih 2 tahun saja.
Selama menjadi pengasuh di Pesantren Krapyak, Kiai Ali juga dipercaya mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Beliau pernah dipercaya menjadi team Lajnah Pentafsir Al-Qur’an. Adapun karir oraganisasi kiai Ali adalah menjabat Rais Aam NU periode 80an setelah Rais Aam KH Bisri Sansuri Jombang wafat. Pengukuhan kepemimpinan Kiai Ali ini ketika generasi pendiri NU wafat, padahal pada saat itu tokoh-tokoh NU yang kharismatik( bahkan) secara usia lebih senior dari beliau masih banyak, misalnya KH As’ad Samsul Arifin situbondo, dan KH Ali Mahrus Kediri.
Kiai Ali Maksum tidak diragukan tingkat keilmuannya. Beliau termasuk jenis ulama’ yang berangkat tidak dari bangku sekolah formal layaknya ulama’ sekarang. Justru intelektualitasnya beliau bangun dari pesantren.
Kiai Ali sudah kesohor sebagai calon ulama’ handal ketika belajar di Pesantren Termas. Saat itu beliau sudah mendapatkan julukan “Munjid” berjalan, kamus arab karangan non muslim. Beliau juga sedikit berbeda dari ulama’ kebanyakan. Beliau sangat gandrung terhadap logika dan ilmu mantiq. Diantara karya penting yang menjadi petunjuk bahwa kedepan beliau merupakan tokoh penting dan berpengaruh adalah bukunya yang berjudul “Mizanul Uqul fi Ilmil Mantiq” pertimbangan akal dalam ilmu mantiq. Hal inilah tidak mengherankan bila mana santrinya diajak membaca sebanyak-banyaknya kitab apapun dari madzhab apapun, seperti yang pernah dituturkan oleh KH Masdar Farid. Seorang peneliti Belanda Martin van Bruenesen mengklasifikasikan Kiai Ali sebagai kiai alim, sedangkan Kiai As’ad sebagai kiai kanuragan.
Dalam salah satu tulisan Gus Dur yang berjudul “Baik Belum Tentu Manfaat”, beliau menceritakan satu saat bertanya kepada Kiai Ali Maksum tentang belajar di pesantren sembari melakukan “puasa ngrowot” , yaitu puasa meninggalkan makan nasi dan lauk bernyawa semisal ikan, telur, digantikan sekedar makan ketela dan sejenis umbi-umbi lainnya selama belajar. Gus Dur menyatakan bahwa makanan itu tentunya jauh dari gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan berakibat lemahnya kemampuan santri selama mondok, namun mengapa dalam salah satu karya imam Al-Ghazali “laku” tersebut justru direkomendasinya selama proses belajar?
Kiai Ali menjawab bahwa “pendapat (Al-Ghazali) itu baik tapi belum tentu manfaat”. Di sini oleh Gus Dur, Kiai Ali dianggap mampu melakukan dinamisasi yang diperlukan terhadap teks-teks klasik. Kiai Ali memahami kebaikan pendapat tersebut namun belum tentu manfaatnya khususnya untuk masa sekarang.
Hal yang tak kalah penting yang mendorong pentingnya posisi beliau
dalam pentas nasional adalah momentum estafet kepemimpinan NU pasca
wafatnya kiai Bisri Sansuri. Saat itu NU dalam tarikan yang sangat kuat
antara NU politik dan NU kultural. Munculnya kelompok Cipete dan
kelompok Situbondo menunjukkan indikasi tarik-menarik kepentingan yang
sangat kuat saat itu. Bilamana dulu NU salah memilih pucuk pimpinan
pengganti Kiai Bisri mungkin saja wajah NU tidak seperti sekarang.
Nama-nama seperti KH Ahmad Siddiq, Gus Dur mungkin saja tidak muncul.
Yang menarik, suara-suara pembaharuan dari generasi ketiga NU yang moderat seperti KH Mustofa Bisri, KH Masdar Farid, Gus Dur adalah santri beliau sendiri. Begitu pula suara-suara ulama’sepuh saat itu kompak tertuju pada kiai Ali bahwa beliaulah yang paling cocok mengawal pembaharuan dalam tubuh NU.
Sekarang NU sudah dikenal oleh semua termasuk masyarakat luar. Penelitian tentang NU semakin banyak. Pemerintah nyaman menjalankan roda pemerintahannnya karena dukungan NU terhadap NKRI. Memang semua itu sumbangsih terbesar adalah Gus dur KH Ahmad Siddiq. Namun beliau berdua bekerja mengangkat harkat NU karena back up Kiai Ali Maksum.
Muktamar krapyak 89 menjadi saksi betapa kuatnya dukungan Kiai Ali pada duet kepemimpinan KH Ahmad Siddiq-Gus Dur dari suara ketidakpuasan sebagian kiai terhadap sepak terjang Gus dur selama ini. Beliau yang mula-mula meredakan situasi internal NU. Beliau yang memberi ruang gerak bagi pikiran-pikiran segar bagi kebaikan NU. Pendek kata kiai Ali Maksum merupakan peletak dasar pikiran moderat NU yang sekarang ini merupakan mainstream NU secara umum.
Yang menarik, suara-suara pembaharuan dari generasi ketiga NU yang moderat seperti KH Mustofa Bisri, KH Masdar Farid, Gus Dur adalah santri beliau sendiri. Begitu pula suara-suara ulama’sepuh saat itu kompak tertuju pada kiai Ali bahwa beliaulah yang paling cocok mengawal pembaharuan dalam tubuh NU.
Sekarang NU sudah dikenal oleh semua termasuk masyarakat luar. Penelitian tentang NU semakin banyak. Pemerintah nyaman menjalankan roda pemerintahannnya karena dukungan NU terhadap NKRI. Memang semua itu sumbangsih terbesar adalah Gus dur KH Ahmad Siddiq. Namun beliau berdua bekerja mengangkat harkat NU karena back up Kiai Ali Maksum.
Muktamar krapyak 89 menjadi saksi betapa kuatnya dukungan Kiai Ali pada duet kepemimpinan KH Ahmad Siddiq-Gus Dur dari suara ketidakpuasan sebagian kiai terhadap sepak terjang Gus dur selama ini. Beliau yang mula-mula meredakan situasi internal NU. Beliau yang memberi ruang gerak bagi pikiran-pikiran segar bagi kebaikan NU. Pendek kata kiai Ali Maksum merupakan peletak dasar pikiran moderat NU yang sekarang ini merupakan mainstream NU secara umum.
Mohammad Yahya
Alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Alumnus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
SEJARAH KEMUNCULAN NU
Teks Translit Pidato
KH As'ad Sayamsul Arifin [1]
(KH As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH Hasyim Asyari mendirikan Jamiyah Ulama [akhirnya bernama Nahdlatul Ulama]. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya)
Assalamualaikum Wr. Wb
Yang akan saya sampaikan pada anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.
Begini. Umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, Ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam menurut orang sekarang Islam Ahlisunah wal jamaah, syariat Islam dari Rasulullah saw yang beraliran salah satu empat madzhab. Khususnya Madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Madzhab-madzhab yang lain juga ada. ini termasuk Islam Ahlisunnah wal jamaah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlisunnah wal jamaah.
Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan: "Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya". Kyai Muntaha berkata: "Apa keperluannya?". Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya Quran dan Hadis saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kyai Kholil." Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: "Nasib, Kesini! Bilang kepada Muntaha, di Quran sudah ada, sudah cukup:
Assalamualaikum Wr. Wb
Yang akan saya sampaikan pada anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.
Begini. Umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, Ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam menurut orang sekarang Islam Ahlisunah wal jamaah, syariat Islam dari Rasulullah saw yang beraliran salah satu empat madzhab. Khususnya Madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Madzhab-madzhab yang lain juga ada. ini termasuk Islam Ahlisunnah wal jamaah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlisunnah wal jamaah.
Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan: "Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya". Kyai Muntaha berkata: "Apa keperluannya?". Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya Quran dan Hadis saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kyai Kholil." Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: "Nasib, Kesini! Bilang kepada Muntaha, di Quran sudah ada, sudah cukup:
يُرِيدُونَ
أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن
يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32)
"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai" (at-Taubat: 32)
Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha".
Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. "Saya puas sekarang" kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.
Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Aba saya (KH Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini, seperti apa, seperti apa… Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir, para kyai berkata… Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan. Sampai tahun 1923, kata kyai satu: "Mendirikan Jamiyah (organisasi)", kata yang lain: "Syarikat Islam ini saja diperkuat". Kata yang lain: "Organisasi yang sudah ada saja". Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini… Kemudian ada satu ulama yang matur sama kyai: "Kyai saya menemukan satu sejarah tulisan sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini… (Kyai As'ad berkata: Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja)… : "Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): "Islam Ahlisunnah wal Jamaah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Bawa ke Indonesia". Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugas melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugas ke Madinah.
Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang megang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insyaallah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.
Sesudah tidak menemukan kesimpulan. Tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: "As'ad, kesini kamu!" Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). Arrahman Arrahim… Kyai marah: "Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!". "Tidak saya sengaja Kyai. Saya ini pelat." Kyai kemudian keluar… (Kyai Kholil melakukan sesuatu)… Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.
Kedua, saya dipanggil lagi: "Mana yang cadal itu? Sudah sembuh cadalnya?". "Sudah Kyai". "Kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?". "Tahu". "Kok tahu? Pernah mondok disana?". "Tidak. Pernah sowan". "Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan". "Ya, kyai". "Kamu punya uang?". "Tidak punya, kyai". "Ini". Saya diberikan uang ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.
Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: "Kesini kamu! Ada ongkosnya?". "Ada, kyai". "Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?". Saya dikasih lagi 1 ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan.Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: "Ini (tongkat) kasihkan ya… (Kyai Kholil membaca surat Thaha: 17-21)…
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel "Orang ini gila. Muda pegang tongkat". Ada yang lain bilang: "Ini wali". Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila. Ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu. Saya hanya disuruh kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua. yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): "Siapa ini?". "Saya, Kyai". "Anak mana?". "Dari Madura, Kyai". "Siapa namanya?". "As'ad". "Anaknya siapa?". "Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin". "Anaknya Maimunah kamu?". "Ya, Kyai". "Keponakanku kamu, Nak". "Ada apa?". "Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat". "Tongkat apa?" "Ini, Kyai". "Sebentar, sebentar…"
Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). "Bagaimana ceritanya?" Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat….
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya"
Inilah rencana mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti.
Setelah itu saya mau pulang. "Mau pulang kamu?". "Ya, Kyai". "Cukup uang sakunya?" "Cukup, Kyai" "Saya cukup didoakan saj, Kyai". "Ya, mari… Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan". Inilah asalnya Jamiyatul Ulama.
Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil. "As'ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?" "Tidak, Kyai". "Hasyim Asy'ari?" "Ya, Kyai" "Dimana rumahnya". "Tebuireng". "Darimana asalnya?" "Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asyari Keras". "Ya, benar. Dimana Keras?". "Di baratnya Seblak". "Ya, kok tahu kamu?" "Ya, Kyai". "Ini tasbih hantarkan" "Ya, Kyai". Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.
Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar. "Kesini, makan dulu!" "Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan". "Darimana kamu dapat?" "Saya beli di jalan, Kyai" "Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?" "Ya, Kyai". Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: "Cukup itu?" "Cukup, Kyai" "Tidak!" Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi.
Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir … "Ini" Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. "Kok leher?" "Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh". "Ya, kalau begitu". Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu. "Ini orang yang megang tongkat itu?" "Wah.. Hadza majnun". Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik "karcis! karcis!" Saya tidak ditanya. Saya piker ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin. Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai tanya: "Apa itu?" "Saya mengantarkan tasbih" "MasyaAllah, MasyaAllah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?" "Ini, Kyai" (dengan menjulurkan leher). "Lho?" "Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda". Kemudian diambil oleh Kyai. "Apa kata Kyai?". "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". "Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur". Ini dawuhnya.
Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada gubernur jenderal.
Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan…
[1] File rekaman diperoleh dari Gus Adib Mursyid, MAg. pada Jumat, 23 Maret 2012 di atas Kapal Lawit (Pelni). Dialihbahasakan oleh Moh. Ma'ruf Khozin
"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai" (at-Taubat: 32)
Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha".
Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. "Saya puas sekarang" kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.
Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Aba saya (KH Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini, seperti apa, seperti apa… Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir, para kyai berkata… Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan. Sampai tahun 1923, kata kyai satu: "Mendirikan Jamiyah (organisasi)", kata yang lain: "Syarikat Islam ini saja diperkuat". Kata yang lain: "Organisasi yang sudah ada saja". Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini… Kemudian ada satu ulama yang matur sama kyai: "Kyai saya menemukan satu sejarah tulisan sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini… (Kyai As'ad berkata: Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja)… : "Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): "Islam Ahlisunnah wal Jamaah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Bawa ke Indonesia". Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugas melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugas ke Madinah.
Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang megang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insyaallah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.
Sesudah tidak menemukan kesimpulan. Tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: "As'ad, kesini kamu!" Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). Arrahman Arrahim… Kyai marah: "Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!". "Tidak saya sengaja Kyai. Saya ini pelat." Kyai kemudian keluar… (Kyai Kholil melakukan sesuatu)… Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.
Kedua, saya dipanggil lagi: "Mana yang cadal itu? Sudah sembuh cadalnya?". "Sudah Kyai". "Kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?". "Tahu". "Kok tahu? Pernah mondok disana?". "Tidak. Pernah sowan". "Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan". "Ya, kyai". "Kamu punya uang?". "Tidak punya, kyai". "Ini". Saya diberikan uang ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.
Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: "Kesini kamu! Ada ongkosnya?". "Ada, kyai". "Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?". Saya dikasih lagi 1 ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan.Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: "Ini (tongkat) kasihkan ya… (Kyai Kholil membaca surat Thaha: 17-21)…
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel "Orang ini gila. Muda pegang tongkat". Ada yang lain bilang: "Ini wali". Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila. Ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu. Saya hanya disuruh kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua. yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): "Siapa ini?". "Saya, Kyai". "Anak mana?". "Dari Madura, Kyai". "Siapa namanya?". "As'ad". "Anaknya siapa?". "Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin". "Anaknya Maimunah kamu?". "Ya, Kyai". "Keponakanku kamu, Nak". "Ada apa?". "Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat". "Tongkat apa?" "Ini, Kyai". "Sebentar, sebentar…"
Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). "Bagaimana ceritanya?" Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat….
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula"
"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya"
Inilah rencana mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti.
Setelah itu saya mau pulang. "Mau pulang kamu?". "Ya, Kyai". "Cukup uang sakunya?" "Cukup, Kyai" "Saya cukup didoakan saj, Kyai". "Ya, mari… Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan". Inilah asalnya Jamiyatul Ulama.
Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil. "As'ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?" "Tidak, Kyai". "Hasyim Asy'ari?" "Ya, Kyai" "Dimana rumahnya". "Tebuireng". "Darimana asalnya?" "Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asyari Keras". "Ya, benar. Dimana Keras?". "Di baratnya Seblak". "Ya, kok tahu kamu?" "Ya, Kyai". "Ini tasbih hantarkan" "Ya, Kyai". Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.
Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar. "Kesini, makan dulu!" "Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan". "Darimana kamu dapat?" "Saya beli di jalan, Kyai" "Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?" "Ya, Kyai". Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: "Cukup itu?" "Cukup, Kyai" "Tidak!" Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi.
Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir … "Ini" Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. "Kok leher?" "Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh". "Ya, kalau begitu". Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu. "Ini orang yang megang tongkat itu?" "Wah.. Hadza majnun". Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik "karcis! karcis!" Saya tidak ditanya. Saya piker ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin. Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai tanya: "Apa itu?" "Saya mengantarkan tasbih" "MasyaAllah, MasyaAllah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?" "Ini, Kyai" (dengan menjulurkan leher). "Lho?" "Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda". Kemudian diambil oleh Kyai. "Apa kata Kyai?". "Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar". "Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur". Ini dawuhnya.
Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada gubernur jenderal.
Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan…
[1] File rekaman diperoleh dari Gus Adib Mursyid, MAg. pada Jumat, 23 Maret 2012 di atas Kapal Lawit (Pelni). Dialihbahasakan oleh Moh. Ma'ruf Khozin

